top of page

SIMBOLISME ARCA PHALLUS

Menjelaskan makna spiritual Hindu-Jawa lewat arca phallus sebagai lambang kesuburan dan hasil percampuran budaya, yang berada di lingkungan tenang lereng Gunung Lawu.

WhatsApp Image 2026-04-07 at 02.27.47.jpeg

HIDUP • KESUBURAN • ALAM • HIDUP • KESUBURAN • ALAM • HIDUP • KESUBURAN • ALAM • HIDUP • KESUBURAN • ALAM • HIDUP • KESUBURAN • ALAM

archa phallus candi cetho (sumber: r​1.community.samsung.com)

JEJAK
CANDI CETHO

Candi Cetho adalah salah satu peninggalan sejarah dari masa akhir Kerajaan Majapahit, sekitar abad ke-15. Letaknya ada di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. Bentuk bangunannya berupa punden berundak, yang menunjukkan adanya pengaruh tradisi megalitik Nusantara. Candi ini juga berkaitan dengan kondisi saat Majapahit mulai mengalami kemunduran, sehingga banyak penganut Hindu yang berpindah ke daerah pegunungan.

 

Salah satu hal yang paling menarik di Candi Cetho adalah adanya arca dan relief yang menggambarkan alat reproduksi manusia secara cukup jelas, terutama arca phallus. Bagi orang awam, bentuk ini mungkin terlihat aneh atau bahkan dianggap vulgar. Namun, dalam konteks budaya dan kepercayaan masa itu, arca tersebut justru memiliki makna sakral, yaitu sebagai simbol Dewa Siwa dan lambang kesuburan serta asal mula kehidupan.

​

​Dalam kajian ini, arca phallus tidak hanya dilihat sebagai benda biasa, tetapi sebagai sebuah tanda yang memiliki makna tertentu. Untuk memahami makna tersebut, digunakan pendekatan semiotik dari Ferdinand de Saussure, yang membagi tanda menjadi dua bagian: bentuk fisik (penanda) dan makna yang dikandungnya (petanda). Dengan cara ini, kita bisa memahami bagaimana simbol tersebut digunakan sebagai sarana komunikasi keagamaan pada masa itu.

WhatsApp Image 2026-04-07 at 02.27.47.jpeg

archa phallus candi cetho (sumber: r​1.community.samsung.com)

DESKRIPSI OBJEK

Arca phallus di Candi Cetho terbuat dari batu andesit dan berbentuk seperti alat kelamin laki-laki yang digambarkan secara cukup realistis. Tingginya sekitar 80 cm dengan diameter sekitar 25 cm. Bentuk ini menunjukkan adanya perubahan gaya dari masa sebelumnya yang lebih simbolis, menjadi lebih jelas dan langsung pada masa Majapahit akhir.

 

Arca ini digambarkan dalam kondisi ereksi dan memiliki empat bulatan kecil di bagian ujungnya. Saat ini, arca tersebut ditempatkan di dalam bangunan kecil, meskipun bukan di lokasi aslinya karena sudah mengalami pemugaran.

​

Selain arca, ada juga relief di lantai yang menggambarkan phallus berhadapan dengan vulva. Relief ini juga dilengkapi dengan gambar hewan seperti kadal dan ular. Keseluruhan gambaran ini menunjukkan simbol hubungan seksual yang dimaknai sebagai proses awal terciptanya kehidupan.
 

ANALISIS IKONOGRAFIS

Analisis ikonografis mengidentifikasi makna konvensional yang menghubungkan bentuk fisik arca dengan konsep keagamaan. Lingga sebagai simbol sakral Hindu merepresentasikan Dewa Siwa, dan lazimnya dipasangkan dengan yoni untuk melambangkan persatuan Siwa-Parwati sebuah konsep filosofis yang merepresentasikan asal-usul segala kehidupan.

​

Secara komparatif, arca phallus Candi Cetho berbeda dari tradisi Hindu klasik yang menggambarkan lingga secara simbolik dan skematis. Pada masa Majapahit akhir, lingga ditampilkan dalam bentuk yang lebih naturalis dan anatomis, mencerminkan pergeseran dari pakem India menuju kebangkitan unsur megalitikum Nusantara.

​

Posisi ereksi pada arca secara teologis melambangkan kekuatan kesuburan mutlak, yang sangat bermakna bagi masyarakat agraris di lereng Gunung Lawu. Atribut empat bola di ujung phallus merujuk pada tradisi kebudayaan Jawa kuno, sementara hiasan ular dan kadal pada relief lantai berfungsi sebagai simbol dunia bawah yang berkaitan dengan unsur bumi dan air.

​

Dalam konteks ritual Jawa-Hindu abad ke-15, peaparan visual ini bukan objek erotis, melainkan media ritus kesuburan yang sakral berkaitan dengan ajaran Tantrayana di mana hubungan seksual dipandang sebagai jalan spiritual menuju moksa.

interpretasi ikonologis

Dalam kajian ikonografi, bentuk arca dikaitkan dengan makna keagamaan. Dalam agama Hindu, lingga adalah simbol Dewa Siwa dan biasanya dipasangkan dengan yoni. Keduanya melambangkan kesatuan antara laki-laki dan perempuan yang menjadi asal mula kehidupan.

​

Yang menarik, arca di Candi Cetho berbeda dari bentuk lingga pada masa sebelumnya. Jika dulu bentuknya lebih simbolis, di sini justru digambarkan secara nyata dan detail. Hal ini bukan tanpa alasan pada masa runtuhnya Majapahit, masyarakat yang tersisa mencoba mempertahankan budaya mereka dengan cara mereka sendiri, sehingga unsur lokal mulai lebih dominan dan ekspresi keagamaan menjadi lebih langsung.

​

Posisi arca yang ereksi melambangkan kekuatan kesuburan yang sangat penting bagi masyarakat agraris. Hiasan seperti ular dan kadal bukan sekadar dekorasi keduanya melambangkan unsur alam seperti bumi dan air, yang menjadi sumber kehidupan bagi para petani di lereng Gunung Lawu.

​

Secara ikonologis, arca ini mencerminkan ajaran Tantrayana, yang memandang seksualitas bukan sebagai hal duniawi semata, melainkan sebagai simbol spiritual yang dalam. Hubungan seksual (maithuna) dalam ajaran ini dipandang sebagai jalan menuju kesempurnaan spiritual, sehingga lingga dan yoni menjadi lambang keseimbangan alam semesta dan asal mula kehidupan itu sendiri.

​

Lebih jauh, letak candi di lereng gunung memperkuat makna ini. Gunung dianggap sebagai tempat suci dan kediaman roh leluhur. Arca phallus di sini bukan hanya objek pemujaan, tetapi juga berfungsi menjaga kesuburan tanah, keberhasilan panen, dan digunakan dalam ritual ruwatan  yaitu upacara pembersihan diri dari pengaruh buruk dan energi negatif.

Istilah Kunci
  • Lingga ➥ simbol Dewa Siwa dalam agama Hindu, melambangkan kekuatan maskulin dan penciptaan.
  • Yoni ➥ simbol kekuatan feminin, pasangan lingga, melambangkan rahim kehidupan.
  • Maithuna ➥konsep dalam Tantrayana yang memandang hubungan seksual sebagai ritual spiritual menuju kesempurnaan.
  • Tantrayana ➥ aliran kepercayaan Hindu-Buddha yang mengintegrasikan unsur spiritual dan fisik sebagai satu kesatuan jalan menuju moksha.
  • Ruwatan ➥ ritual pembersihan diri dari pengaruh buruk dalam tradisi Jawa.

ANALISIS SEMIOTIK (DE SAUSSURE)

Dalam perspektif semiotik De Saussure, arca phallus Cetho merupakan penanda (signifier) fisik berupa patung andesit naturalis yang anatomis, tegak ereksi, serta dilengkapi atribut bola kecil dan relief fauna. Petanda (signified) yang dikandungnya merepresentasikan konsep kesuburan agraris, kemahakuasaan Dewa Siwa, siklus penciptaan semesta, serta fungsi perlindungan gaib melalui media ruwatan.

​

Sebagai sebuah tanda, arca ini menjadi medium komunikasi sakral yang mengikat nilai fisik dan konsep mental tersebut dalam konteks sejarah masyarakat petani Gunung Lawu abad ke-15. Kehadirannya memposisikan seksualitas bukan sebagai objek vulgar, melainkan jalan spiritual ajaran Tantrayana untuk mencapai harmoni dengan alam dan pembebasan jiwa atau moksa.

Ferdinand-de-Saussure.jpg

Ferdinand De Saussure (sumber: ghost-blog-assets.zenius.net)

Pintu masuk candi ceto,sumber(pinterest)

TIM PENYUSUN

Karya ini disusun bersama sebagai bagian dari tugas mata kuliah Ikonografi, Seni dan Simbol.

WhatsApp Image 2026-04-07 at 12.20.45.jpeg
Agustiar

agutiarrr85@gmail.com

steffania meidy.jpeg
Steffania Meidy

steffania035@gmail.com

WhatsApp Image 2026-04-07 at 12.32_edited.jpg
M. Gilang Ramadhan

Gilang032004@gmail.com

bottom of page